Kalbar
Beranda / Kalbar / Workshop Tenun di Kumpang Ilong, Disporapar Kalbar Perkuat Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya

Workshop Tenun di Kumpang Ilong, Disporapar Kalbar Perkuat Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya

BERANDA KALBAR – Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sektor ekonomi kreatif berbasis budaya dan kearifan lokal. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah penyelenggaraan Workshop Tenun di Desa Kumpang Ilong, Kabupaten Sekadau, belum lama ini.

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Kepala Disporapar Kalbar Windy Prihastari, bersama Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Sekadau Magdalena Susilawati Aron.Menurut Windy, workshop ini merupakan tindak lanjut dari permintaan Kelompok Tenun Batu Petara, yang menjadi sentra utama pengrajin kain tenun di Desa Kumpang Ilong. Program tersebut dirancang tidak hanya untuk memperkuat keterampilan teknis para perajin, tetapi juga untuk memperkenalkan strategi pengembangan produk yang berorientasi pada pasar modern.
“Disporapar Kalbar ingin memastikan bahwa potensi ekonomi kreatif, khususnya tenun tradisional, tidak hanya berhenti sebagai warisan budaya. Kita dorong agar menjadi bagian dari rantai ekonomi produktif yang memberi nilai tambah bagi masyarakat,” ujar Windy.
Ia menjelaskan, sektor ekonomi kreatif merupakan salah satu fokus prioritas pembangunan Kalbar, sejalan dengan arah kebijakan pemerintah pusat. Melalui pelatihan, pendampingan, hingga promosi produk, Disporapar Kalbar berupaya memperkuat posisi pelaku ekonomi kreatif di daerah agar mampu mandiri secara ekonomi.
“Melalui pelatihan seperti ini, kami membantu perajin meningkatkan kualitas kain, memperbaiki teknik pewarnaan dan motif, sekaligus memahami pentingnya branding dan pemasaran digital. Ini penting agar produk mereka bisa diterima di pasar nasional bahkan internasional,” tambahnya.
Desa Kumpang Ilong sendiri dikenal sebagai satu-satunya desa penghasil kain tenun di Kabupaten Sekadau.
Untuk mencapai desa ini, perjalanan harus ditempuh sejauh 294 kilometer dari Kota Pontianak dengan waktu tempuh sekitar tujuh jam, termasuk menyeberangi Sungai Aya menggunakan kapal ferry di Kecamatan Belitang.
Lokasinya yang cukup terpencil tak menyurutkan semangat masyarakat untuk terus menjaga tradisi mene
nun yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Disporapar Kalbar, kata Windy, melihat potensi besar dari ketekunan masyarakat Kumpang Ilong ini. Dengan bimbingan yang berkelanjutan, produk tenun khas Sekadau diyakini mampu menembus pasar nasional, bahkan berpotensi menjadi produk unggulan daerah di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Ke depan, kami ingin agar setiap produk tenun dari Kalbar memiliki karakter khas masing-masing daerah, sehingga dapat menjadi identitas budaya sekaligus sumber kesejahteraan baru bagi masyarakatnya,” ungkapnya.
Selain memberikan pelatihan teknis, Disporapar Kalbar juga akan mendorong terbentuknya jejaring promosi dan pemasaran, termasuk kerja sama dengan Dekranasda, pelaku usaha, hingga e-commerce.
Dengan adanya workshop ini, Disporapar Kalbar berharap dapat menciptakan model pembinaan ekonomi kreatif yang dapat diterapkan di daerah lain. Program semacam ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan keterampilan, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat dan pelestarian budaya lokal.
Windy menegaskan, pemerintah provinsi berkomitmen menjadikan sektor ekonomi kreatif sebagai salah satu pilar pembangunan Kalbar di masa depan.
“Tenun bukan sekadar kain, tapi simbol identitas, kerja keras, dan kreativitas masyarakat Kalimantan Barat. Melalui pembinaan berkelanjutan, kami ingin menjadikan warisan ini sebagai sumber ekonomi yang berkelanjutan,” tutupnya. (*)
Kehadiran keduanya menjadi simbol kolaborasi antara pemerintah provinsi dan daerah dalam mengangkat potensi lokal agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Komentar

Tinggalkan Balasan