PONTIANAK — Sebaran titik panas atau hotspot di wilayah Kalimantan Barat terpantau cukup tinggi sepanjang Jumat, 21 Agustus 2026. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Barat, tercatat sebanyak 3.704 titik panas dengan tingkat kepercayaan berbeda di sejumlah kabupaten/kota.
Dari total tersebut, sebanyak 406 titik berada pada tingkat kepercayaan rendah, 3.100 titik pada tingkat kepercayaan menengah, dan 198 titik berada pada tingkat kepercayaan tinggi.
Kabupaten Ketapang menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni mencapai 1.748 titik, terdiri dari 237 titik dengan tingkat kepercayaan rendah, 1.421 tingkat menengah, dan 90 tingkat tinggi.
Selanjutnya, hotspot cukup banyak terpantau di Sanggau sebanyak 343 titik, Sintang 278 titik, Kapuas Hulu 205 titik, Kubu Raya 214 titik, Sekadau 227 titik, serta Kayong Utara 208 titik.
Sementara itu, Melawi tercatat 160 titik, Landak 151 titik, Bengkayang 82 titik, Sambas 69 titik, dan Mempawah 14 titik. Untuk Kota Singkawang tercatat lima titik, sedangkan Kota Pontianak tidak terdapat hotspot dalam data tersebut.
BMKG menjelaskan, deteksi hotspot menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada satelit polar, di antaranya NOAA-20, S-NPP, Terra, dan Aqua. Sistem tersebut mendeteksi anomali suhu panas dibandingkan dengan kondisi di sekitarnya sebagai indikasi lokasi yang berpotensi mengalami kebakaran hutan dan lahan. (BMKG Kalimantan Barat)
Namun demikian, BMKG menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi titik panas berdasarkan penginderaan jauh dan bukan secara otomatis berarti lokasi tersebut sedang mengalami kebakaran. Selain itu, wilayah yang tertutup awan atau masuk zona kosong (blank zone) dapat menyebabkan hotspot tidak terdeteksi oleh satelit. (BMKG Kalimantan Barat)
Tingginya jumlah titik panas ini menjadi perhatian di tengah periode musim kemarau. BMKG Kalimantan Barat sebelumnya telah mengingatkan bahwa Agustus 2026 merupakan periode puncak musim kemarau, sehingga kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan perlu terus ditingkatkan. (BMKG Kalimantan Barat)
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan, terutama di wilayah yang kondisi vegetasinya kering. Pemerintah daerah dan pihak terkait juga diharapkan terus memperkuat pemantauan serta melakukan langkah cepat apabila ditemukan indikasi kebakaran hutan dan lahan.
Sumber: BMKG Kalimantan Barat

